Pendidikan, kalau kita mengarah pada kata tersebut pasti isi pikiran kita akan mengarah pada proses di mana seorang guru mengajarkan sesuatu materi kepada para murid. Mengajarkan berarti memberi sesuatu ilmu atau menambah wawasan seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu.

Proses mengajarkannya ini pada suatu tempat, yang kita beri nama sekolah (sekolahan). Kesimpulannya, pendidikan adalah di mana seseorang datang ke sekolah untuk menambah ilmu atau wawasan mereka ke suatu tempat yang namanya sekolahan.

Definisi di atas adalah penjelasan mengenai pendidikan pada masa lalu dan bahkan sampai saat ini masih mengarah pada definisi tersebut, tapi tidak pada tahun 2019 ini.

Secara perlahan definisi pendidikan di atas diarahkan pada pola pendidikan yang lebih modern, di mana si Anak (siswa/i) tidak perlu lagi belajar di ruangan (mereka bisa belajar di mana saja mereka mau), si Anak (siswa/i) tidak perlu lagi membawa buku-buku yang memberatkan mereka (mereka cukup membawa smartphone mereka karna buku sudah dalam bentuk e-book) dan yang lebih menarik lagi si Anak (siswa/i) tidak perlu lagi membayar sekolah yang sangat mahal (otomatis uang pendidikan mereka bisa dialihkan pada pengeluaran lain yang lebih bermanfaat).

Hal tersebut akan merambah di tahun 2019 dan tahun-tahun ke depannya. Anak-anak pelajar ini akan sangat dimanjakan oleh teknologi, khususnya dalam bidang pendidikan. Dan suka atau tidak suka, pemerintah dan aparaturnya harus mendukung hal tersebut. Selain pemerintahan, sekolah-sekolah yang masih bertahan juga harus mendukung hal tersebut.

Dari pengalaman saya mengajar di dua sekolah besar di DKI Jakarta ini, masih ada personal guru yang memiliki mindset atau pemikiran bahwa smartphone itu adalah musuh di dalam dunia pendidikan.

Memang tidak mudah untuk mengubah pemikiran tersebut dan butuh keterbukaan hati untuk kita belajar lagi mengenai perkembangan teknologi yang ada saat ini. Kenapa guru-guru ini harus mengubah mindset mereka?

Faktanya, setiap kita jalan (entah di trotoar, di manapun itu) pasti kita tidak pernah melihat orang yang tidak memegang smartphone. Kalau para pengajar masih tidak mau mengubah pemikiran mereka, maka yang terjadi adalah benturan. Kalau terjadi benturan, otomatis proses pembelajaran tidak dapat berjalan dengan baik. Kalau kita bikin smartphone menjadi sahabat para siswa/i, hasil akan menjadi maksimal.

Akhir kata, di tahun 2019 ini dunia pendidikan di Indonesia akan mengarah pada perkembangan teknologi seperti smartphone cs. Siswa/i akan sangat dimanjakan dengan perkembangan teknologi yang ada pada saat ini. Banyak penyedia jasa pendidikan yang tentunya akan memanjakan para siswa/i tersebut.

Sumber: kumparan

Related Post
20 Tahun Mahesa Institute Berkarya

Pernahkah kalian berkunjung ke kampung inggris pare? Pastinya pernah mendengar nama Mahesa Institute. Mahesa didirikan pada tahun 1998, proses awal Read more

Peran Mahesa Institute dalam 7th Forum Kampung Bahasa

Bertepatan memperingati hari ulang tahun kampung bahasa yang ke 7 pada 29 Oktober 2018 sekaligus peringatan sumpah pemuda, lembaga kampung Read more

Pekan Liburan Sekolah, Belajar Bahasa Inggris Seru

Liburan sekolah akhir tahun 2018 yang berlangsung singkat 2 minggu dimanfaatkan dengan berbagai aktivitas bermanfaat. Tidak kehabisan ide beberapa orang Read more

Meneruskan Gelora Semangat Bahasa Inggris dari Desa Tulungrejo

Menuju akhir tahun 2018 sampai memasuki awal tahun 2019, Pondok pesantren modern Iqyaul Qur’an Bengkulu datang bersama rombongan dari kelas Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *